Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.
Tentang seorang pemuda yang jatuh cinta dengan cara tidak biasa. Areno Damar atau Are, bertemu dengan Ruth di sebuah kapal feri yang berlayar menuju Bali. Cinta pada pandangan pertama? Entahlah, tapi yang pasti Ruth berhasil menarik perhatian Are hingga akhirnya, dari hanya pandangan yang bertemu berubah manis menjadi perbincangan yang tak kunjung henti.
Seperti kalimat Ruth yang terkenal, “tidak ada yang namanya kebetulan”, begitu juga pertemuan Are dan Ruth selanjutnya. Sekali lagi melihat Ruth duduk sendiri di sebuah kedai kopi di Bali seakan membuat Are bertekad untuk terus menjalin komunikasi. Semakin sering Are berbicara dengan Ruth, semakin Are menyadari bahwa Ruth adalah pribadi yang berbeda dari gadis-gadis yang pernah ditemuinya. Ruth memiliki kesukaan aneh dengan pisau balisong, Ruth pandai sekali membuat sketsa tapi selalu merasa rendah diri saat dipuji, senyum Ruth bukanlah senyum yang dengan bebas dibagikan pada semua orang, dan satu hal yang membuat Are sadar kalau dirinya menyukai Ruth: Ruth bukanlah gadis yang mudah ditebak.
Namun Ruth juga memiliki rahasia, sama seperti setiap orang. Rahasia yang sebenarnya mampu Are tanggung, rahasia yang mampu Are atasi asal Ruth mau memberinya kesempatan.
Ruth tidak memberi Are kesempatan.
“Cinta itu membebani.” – Ruth.
Kalimat pembuka di atas adalah kalimat yang membuatku tertarik dengan buku ini. Jujur saja, sudah lama aku tidak beli novel terbitan Indonesia, terjemahan maupun tulisan lokal. Tapi membaca sampul belakang buku ini saja sudah membuatku merinding, apalagi membaca isinya?
Are adalah pemuda yang simpel. Dia jatuh cinta dan dia berusaha mendapatkan cintanya. Sementara Ruth adalah gadis yang sedikit banyak membuatku bingung dengan apa yang dipikirkannya, karena Ruth bukan gadis yang banyak bicara.
Buku ini diceritakan dari sudut pandang Are, sehingga Ruth hanya mendapat sedikit porsi berbicara, meskipun Ruth adalah pusat dari cerita itu sendiri. Ada saat di mana aku agak malu hati waktu baca buku ini, karena rasanya seperti membaca perasaan pribadi Are untuk Ruth.
Menyenangkan, meskipun terlalu banyak detail yang membuatku sedikit bosan. Seperti tempat-tempat yang dikunjungi Are dan Ruth, atau hal-hal yang mereka lakukan. Sure, kadang menyenangkan membaca detail-detail kecil seperti itu, tapi, kalau ditulis terlalu banyak, membuatku jadi sering lompat paragraf.
Manis, karena penjabaran penulis tentang apa yang Are rasakan sangatlah jelas. Rasanya seperti Are sedang duduk di depanmu dan bercerita padamu. Tapi, mau tidak mau pembaca akan memihak Are dan secara tidak langsung akan membenci Ruth karena tidak memberi Are kesempatan. God knows I am.
Belum lagi frekuensi Are dalam menyebut nama Ruth.
“Kamu ingat, Ruth?”
“Kamu selalu merusak mood romantisku, Ruth?”
“Ada apa sebenarnya, Ruth?”
“Jangan bohong, Ruth.”
Wajar sih, karena di buku ini adalah surat Are untuk Ruth. Cuma tetap saja penggunaan nama Ruth yang banyak membuatku sedikit meringis, meskipun pada akhirnya aku jadi terbiasa dan hanyut dalam ceritanya.
“Kenangan itu keparat, Ruth. Ia tidak akan berhenti menyerang kepalamu, bahkan semakin beringas tepat pada saat kamu berusaha melupakannya.” – Are.
Buku ini tepat untuk dinikmati secara perlahan sambil duduk di teras, siapa tahu kamu ikut menangis, jadi tidak akan ada yang melihat—kecuali tetangga yang lewat. Juga cukup memuaskan dan akan membuatmu sesaat terjebak di dalamnya.
Buku yang bagus tidak harus memiliki akhir yang bahagia.

Review Surat Untuk Ruth by Berbard Batubara
22.07 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar